Biografi Norman Edwin, Kisah Pendakian Aconcagua

Biografi Norman Edwin

Foto dan sampul buku Norman Edwin : Catatan Sahabat Sang Alam
Biografi Norman Edwin (1955 - 1992). Sosok petualang yang satu ini tentu sudah tak asing lagi bagi para pendaki Indonesia. Seorang penggiat petualang alam terbuka yang pemberani dan juga dikenal suka menolong. Norman juga tercatat sebagai wartawan Kompas semasa hidupnya. Pada tahun 1980-an ia banyak menulis di beberapa surat kabar dan majalah, tentu saja tentang kegiatan jelajah alam. Pendaki Indonesia juga mengenang Norman sebagai pelopor pendakian ke berbagai gunung ternama di dunia.

Kematian Norman Edwin

Norman meninggal pada pertengahan April 1992 saat mendaki Gunung Aconcagua (6.959 mdpl) bersama Didiek Samsu Wahyu Triachdi. Pendakian tersebut adalah bagian dari seri pendakian oleh Mapala UI dalam ekspedisi Seven Summit (Aconcagua, Cartensz Pyramid, McKinley di Alaska (Amerika Serikat), Kilimanjaro di Tanzania (Afrika), dan Elbrus di Rusia). Indonesia kehilangan dua pendaki terbaiknya sekaligus.

Meninggalnya mereka berdua banyak diliput oleh Media nasional dan international. Kala itu Norman juga menjadi pemimpin dari ekspedisi team MAPALA UI di gunung yg disebut juga ‘The Devil’s Mountain’ itu. Memang banyak juga yang meragukan Norman kala itu, namun berbekal pengetahuan dalam Penelusuran gua, Pendakian Gunung, Pelayaran, Arung Jeram serta sejumlah pengalaman Rescue di Irian Jaya, Kalimantan, Africa, Kanada bahkan Himalaya, membentuk kecepatan dan kekuatan phisik pada dirinya yang telah bergabung di Mapala UI sejak tahun 1977. Sampai akhirnya terpilih menjadi Leader dalam Expedisi ini bersama Didiek, Rudy “Becak” Nurcahyo, Mohamad Fayez and Dian Hapsari, satu satunya wanita dalam team tersebut.

Pengalaman selama 15 tahun dalam berpetualang sudahlah cukup bagi Norman untuk tetap berangkat. Saat expedisi berlangsung, badai salju menghantam Team ini dan akhirnya merenggut nyawa dua pendaki ini. Jenazah Didiek ditemukan terlebih dahulu pada tanggal 23 Maret atas laporan beberapa pendaki dari negara lain yang sempat melihat mereka berdua di ketinggian 6400 m, hanya tinggal beberapa ratus meter menuju Puncak Aconcagua. Sedangkan jenazah Norman ditemukan beberapa hari kemudian dan langsung diterbangkan ke Jakarta pada tanggal 21 April 1992.

Laporan saat itu kondisi keduanya terlihat sangat kritis, beberapa jari Norman terkena Frosbite (Mati Beku karena Dingin) dan Didiek menderita Snow Blindness (Buta Salju) akibat pancaran sinar matahari yang berlebihan yang memantul dari salju. Terlihat dari kacamata yang dipakai Didiek rusak berat. Spekulasi merebak melalui media massa bahwa kegagalan mereka juga diakibatkan karena minimnya peralatan yang dibawa.

Setahun kemudian Mapala UI yang status keanggotaannya berlaku seumur hidup ini, mengirim kembali dua anggotanya, yaitu Tantyo Bangun dan Ripto Mulyono untuk menyelesaikan pendakian ke Vinson Massif (4,887 meter) di Kutub Selatan. Dan satu lagi Puncak Everest di Himalaya dengan nama Team Expedisi Universitas Indonesia, namun sayang kegagalan juga menimpa team ini.

Dua kegagalan rupanya tidak menyurutkan semangat Mapala UI, karena puncak terakhirnya tetap dijadikan target bagi Expedisi Gabungan selanjutnya yang terdiri dari Mapala UI, Koppassus dan Wanadri. ‘Kami berusaha melakukan pendakian gabungan ke Everest tahun 1997 dan sukses, dua anggota team dari prajurit Koppassus yaitu Asmujiono dan Misirin berhasil mencapai Puncak Everest.’ ujar Rudy “Becak” Nurcahyo anggota Indonesian National Team to Everest yang juga kehilangan jarinya karna Frosbite di Expedisi Aconcagua.

‘Kami mencoba yang tebaik untuk mewujudkan itu semua. dan saya percaya Norman dan Didiek pun akan tersenyum disana melihat keberhasilan Team Everest ini. walaupaun setelah tahun 1997, Indonesia dilanda krisis ekonomi kemudian masa reformasi yang tak lama berselang. Keadaan ini otomatis ini menghambat Expedisi-expedisi selanjutnya yang telah direncanakan.tambahnya.

Norman Edwin Dimata Istri

Bagi istri Norman, Karina serta Melati putrinya, sosok hangat dan eksentrik Norman akan tetap menjadi kenangan yang takkan terlupakan. Semasa hidup, Melati selalu diajak serta dalam kegiatan alam bebas yang digeluti ayahnya itu, termasuk perjalanan ke Irian Jaya saat ia masih kecil. ‘Norman menjadi seorang petualang sejati dan sedikit bandingannya diantara pendaki-pendaki yang ada sekitar tahun 1970-80, dan Didiek adalah teman dekatnya.

Ia tunjukkan rasa hormatnya kepada wanita dan yakin bahwa wanita dapat mengerjakan sesuatu yang lebih baik daripada pria, apalagi menyangkut faktor keselamatan, contohnya Penulusan Gua’ papar Karina yang dulu juga aktif dalam kegiatan alam bebas sekembalinya dari Australia dan mengambil kuliah lagi jurusan Arkeologi di Universitas Indonesia.

Pesan dari Norman Edwin

‘Norman pernah mengatakan, aktivis alam wanita cenderung lebih tenang, tidak mudah panik dan dapat mengatasi situasi darurat jika dibandingkan dengan pria. Bagi saya ia sangat humoris dan mempunyai semangat hidup yang tinggi. Begitu pula yg rasakan Melati, sifat ayahnya ini menurun kepadanya walaupun ia masih berusia remaja. “Janganlah kita mencoba menaklukkan ganasnya alam, tapi belajarlah untuk menaklukkan ego serta mengetahui batasan diri kita sendiri”, faktor ini adalah yang terpenting jika ingin menekuni olahraga beresiko tinggi’ ungkap Karina yang dulu juga ikut dalam team di Expedisi Cartenz Irian Jaya tahun 1981 dan saat ini telah menyelesaikan program Doctoralnya di Australian National University.

Norman dan Didiek telah tiada, namun perjuangan mereka berdua akan tetap dikenang. Pendaki Indonesia patut memberikan penghargaan bagi manusia yang sangat mengispirasi ini.

Artikel ini juga bisa anda temukan di pendaki.ORG

sumber : wikipedia.org, thejakartapost.com

4 komentar:

  1. Test komentar anonim

    BalasHapus
  2. Mendaki gunung tidak cukup banda nekad.Kesiapan fisik , alat dan obat harus lengkap. Pengetahuan tentang segala aspek pendakian harus dikuasai.
    Latihan harus cukup. jika perlu berguru ke ahlinya di Luar Negri sampai mahir sehingga tidak sampai jatuh korban yg semestinya dapat dihindari.

    BalasHapus

Anda bebas untuk berkomentar. Komentar anda sangat berharga bagi kami. Jangan lupa follow kami @ePendaki
juga facebook kami Pendaki Indonesia

Terimakasih